Archive for January, 2007

HSK 34 2007 “THE CHRONICLES” bagian 1.

Wednesday, January 31st, 2007

Panas menyengat siang itu tidak mencegah niatku pergi ke HSK
hari Sabtu kemarin (27 Januari 200). Ditemani dan menemani adikku yang juga sama-sama alumni 34
akhirnya jadi juga kami datang ke pensi yang lama tak muncul itu. Seingatku HSK 34
terakhir yang pernah kudatangi beberapa
tahun lalu adalah yang ada di tahun 2003.

Tiba di SMA 34, suasana masih tampak lengang, baik
pengunjung maupun panitia tidak terlihat amat ramai kerumunannya. Saat itu jam
tangan memang baru menunjukkan jam 2 lewat 5 menitan. Pantas kataku dalam hati
sekaligus bersyukur karena itu artinya aku masih bisa benar-benar menikmati
suasana sekolahku dulu tanpa hingar bingar manusia.

34 tidak lagi seperti zaman aku masih sekolah di sana dulu,
penampilannya tampak jauh lebih baik. Sebelum masuk ke area sekolah di mana
bertebaran banyak ruang kelas dapat ditemui sebuah kolam kecil lengkap dengan
air mancurnya, segar yang pasti. Mushola juga letaknya di dekat area kolam kecil
itu, tapi agak sedikit menjauh masuk ke dalam mungkin untuk menghindari suasana
ramai.

Nurul, adik kecilku yang kini sudah berusia 20 tahun, juga
tampak menikmati suasana 34 siang itu. Teman-temannya belum datang, dia sibuk
sesekali menelpon beberapa di antara mereka, sekedar memastikan jam berapa
mereka akan bertemu. Kuajak dirinya untuk segera mengambil jatah makanan yang
kami dapat otomatis dengan membeli tiket umum, bukan tiket alumni yang
kebetulan memang katanya pas hari H itu sudah habis terjual. Sebuah burger cukup
mengganjal perut kami yang siang itu memang belum terisi, maklum saking
semangatnya pergi ke 34, tawaran makan siang di rumah tidak lagi mengguagah
selara makan siang kami. Minumannya pun kami dapat gratis dari tiket yang kami
beli. Es teh rasa buah apel langsung habis kami minum dan selanjutnya langkah
langsung kami arahkan ke ruang lab fisika yang letaknya berada di sisi barat
sekolah kami itu. Di ruang lab fisika itu kami rencananya akan menonton film
pendek yang telah dibuat oleh anggota INVITE, ekskul film yang sudah ada di
zaman adikku masih sekolah, kira-kira tahun awal tahun 2000.

Film yang kami tonton adalah yang berjudul “Teman untuk
Upik”, film drama thriller yang akhirnya jadi agak-agak horror itu panjangnya
hanya sekitar 20 menit. Pemainnya pun tidak lebih dari 10 orang, tapi lumayan
ok, baik dari segi cerita maupun teknik pengambilan gambar, haha…sok tahu
banget ya gue!!

TOEFL

Monday, January 29th, 2007

Di sampingku sedang duduk seorang kakak yang mau ikut TOEFL esok hari di AMINEF, maklum kami memang sedang tergesa-gesanya mencari beasiswa untuk kuliah S2 ke luar negeri karena kami tidak mungkin dapat beasiswa dari kampus tempat kami mengajar itu. Huh!! Ada rasa kesal sebetulnya atas pembedaan yang ada. Dosen yang bergelar S1 Ekonomi bisa mendapatkan beasiswa kuliah sementara lainnya tidak:( Tapi namanya peraturan, ya kami ga bisa apa-apa, nrimo aja.

Salah satu tes yang harus kami lalui adalah TOEFL, karena bila seseorang ingin menempuh studi di luar negeri diharapkan memiliki kemampuan Bahasa Inggrisnya yang baik, standarnya minimal nilai TOEFLnya 550, itu kalo yang paper based, beda lagi kalo itu CBT (computer based) ato IBT (internet based). Jadilah kami mulai tahun lalu sibuk mengikuti Institutional TOEFL di AMINEF, salah satu tempat yang menyediakan TOEFL resmi.

Walau kami mengajar Bahasa Inggris, entah tetap saja memperoleh nilai TOEFL yang sangat bagus masih menjadi satu problem yang harus dicari solusinya. Jadilah Mbak Ita (kakakku yang tadi kusebut di atas) dan kami (aku & kawan-kawanku yang lain) gemar mencoba latihan-latihan TOEFL secara informal, entah di rumah atau sekedar di internet dengan menggunakan free TOEFL online (cek www.ets.com).

Aku sendiri masih menunda mengambil TOEFL kali ini, mungkin kalo jadi bulan depan saja, kalo harus ambil sekarang rasanya nilai yang aku dapat akan tetap sama atau paling ngga naiknya hanya beberapa poin saja. Sayang kan udh bayar 275 ribu rupiah, tapi hasilnya tidak memuaskan. Hmm…tampaknya tidak hanya mahasiswa yang betul-betul harus belajar keras, aku juga!

Ayo belajar…

Menjelang Tahun Baru 2007

Saturday, January 27th, 2007


 

Entah sejak kapan rasa itu muncul lagi, tapi memang dia kembali.
Ah…terlalu menyakitkan kalau aku ingat aku seperti ini. Tapi aku yakin memang
rasa itu ada. Getarannya terasa berbeda dan kembali itu menyakitkan. Aku tak
kuasa.

Baru sekitar dua
bulan yang lalu sms pelipur lara datang dan menghinggapi jiwa ini. Aku tidak
langsung melupakannya. Rasa gembira mungkin muncul, tapi rasa rindu itu tidak
hilang, sulit untuk hilang persisnya. Namun sudah beberapa hari ini, mungkin
persisnya seminggu, tiba-tiba rasa untuknya lenyap dan digantikan oleh
sekelebat mimpi yang pernah muncul di masa lalu, jauh di tahun-tahun belakang
di kala aku masih betul-betul belia. Saat di mana aku baru mulai menatap dunia
dan mengerti akan artinya cinta.

Sore ini kuketuk
hatiku lagi, meyakinkan diri bahwa memang rasa itu ada. Sial! Aku mengumpat
pada diriku sendiri. Aku senang cinta lama bersemi kembali, tapi…kondisi ini,
kondisi diriku yang membuatku muak, yang membuatku mampu meneteskan air mata
bukti penyesalan atas realita yang ada…Satu persatu bulir bening itu jatuh,
setiap kali nada-nada cinta datang memenuhi jiwa dan raga ini.

Aku selalu mempertanyakan
soal ini pada diriku, namun memang aku tidak pernah mampu menjawabnya. Aku
tidak mau munafik, karena aku yakin itulah yang terjadi. Gila pikirku…Sampe
kapan gue bakal begini?? Gue bener-bener bingung kalo udah kaya gini…

Apa mau-Nya sih?
kadang aku bertanya. Tapi jawaban jelas atas pertanyaan itu tidak pernah
muncul, dan aku kembali merana, nestapa berada di dalam ketidakjelasan dan
segala macamnya. Getaran bahagia kucoba nikmati dengan rasa takut yang tetap
ada di dalamnya. Wish me luck aja ya. 

 

merenung

Saturday, January 27th, 2007

Hidup bukanlah mimpi

Ketika tidur kita harus bangun

Ketika duduk ada saatnya harus berdiri beranjak melakukan
sesuatu

Hidup bukan hanya diam tidak bicara, tapi hidup juga harus
ada bicaranya

Berdiskusi berargumentasi dan berperang mulut terkadang.

 

Hidup bukan hanya senang-senang

Ketemu teman-teman, tertawa-tawa dan berhura-hura,

Tapi hidup juga ada kerjanya, dari sekedar membereskan kamar
hingga menyelesaikan disertasi S3.

Hidup bukan tanpa masalah, hidup tanpa masalah dan
kebingungan bukan lah hidup.

 

Bermimpi boleh, berangan-angan juga tidak berdosa, tapi
kalau sudah bermimpi jangan kebablasan tidak bangun lagi karena itu artinya
mati.

 

Pemimpi punya ilusi, tapi ketika tubuh ini bergerak kita
berhadapan dengan realitas bukan fantasi.

Berjalan menapak bumi dan mengerjakan keseharian yang penuh
liku-liku memang menghabiskan banyak energi, tapi yang pasti kita menjadi diri
sendiri, bukan boneka atau pemain lakon di panggung sandiwara.

 

Jakarta

,
10 Desember 2006

kakakku

Thursday, January 25th, 2007

aku cuma punya seorang kakak. kakak laki-laki persisnya. aku betul-betul sayang pada dirinya. bagimana tidak, dia seorang yang pernah membuatku merasa ada. tapi belakangan kakakku telah membuatku bingung dalam menghadapi dirinya. ada satu hal yang membuatku kerap bingung dan bingung. mengambil keputusan memang sulit, apalagi  ini  berhubungan dengan hal yang amat sangat  penting, bukan remeh temeh yang  seketika bisa selesai  begitu keputusan itu kuambil.

hari ini kakakku mencoba menghubungiku, tp telepon darinya tidak terangkat olehku. itu sebetulnya dilema. kenapa? ada satu alasan yang  sulit sekali untuk dijelaskan di sini. 

hm…

aku juga punya adik, tp tidak satu, aku punya tiga, laki-laki, laki-laki dan perempuan.
aku akan bercerita tentang mereka, tapi nanti ya…

Jealousy Tingkat Tinggi

Thursday, January 18th, 2007

Duh Gusti, kenapa jealousy tingkat tinggi harus muncul lagi? Dan lagi-lagi untuk seseorang yang tidak semestinya ada dan membuat hati ini meronta.

Ya Gusti, aku akan tetap bertahan, yang pasti mencoba dengan segenap kemampuanku, dengan harapan, yang satu ini pun akan dapat berakhir dengan baik tanpa harus ada perseteruan layaknya satu pengalaman yang sudah lalu.

Malam Minggu

Saturday, January 6th, 2007

Malam Minggu mungkin adalah malam yang paling ditunggu oleh semua orang. Masa’ siy? Menurut gw siy adanya persepsi spt itu tercipata krn lingkungan sekitar kita yang membuat kita akhirnya punya pendapat yang sama.

Buat gw pribadi ga ada yang spesia2 bgt dgn mlm minggu selain keesokan hari setelah mlm minggu adalah ahri minggu alias libur. Nah, klo gw nunggu2 mlm minggu ya cuma krn itu aja alesannya.

Buat gw mlm minggu ga selalu berarti menyenangkan, krn tdk di mlm minggu aja gw bisa mnikmati waktu gw. Kadang orang mikir kalo mlm minggu kudu jaln, have fun dgn teman2 atopun dgn orang2 tersayang, tp tdk buat gw. Mlm minggu bs aja jadi wkt kerja gw di rumah, sekedar bikin soal atau ngoreksi. Ya…pokoknya mlm minggu ga mesti spt yg org bilang lah.

Hm…mlm minggu besok ke mana ya? :)

macet

Monday, January 1st, 2007

Giling…Ga ada habis2nya ya ternyata yang namanya macet. Udah nyari jalan alternatif masih aja macet itu ada. Sebenarnya di sisi lain dunia ini, di kota-kota sibuk kaya Jakarta masih ada ga sih jalanan yang ga macet. Gw denger dari orang, katanya di kota-kota sibuk kaya Jakarta emang yang namanya macet itu udah biasa banget. bukan hal baru dan bukan hal tabu. Tapi masa’ sih, gw sendiri sebenernya rada ga percaya sama kenyataan itu, maklum gw emang belum menjelajahi kota-kota lain apalagi kota-kota di negeri lain. Maksud gw, emang ga ada solusinya apa yang namanya macet itu? Kalo Sutiyoso kemudian bikin jalur bus way lengkap dengan transjakartanya, lalu diikuti monorail, menurut gw sih lumrah aja, mungkin dia berharap itu semua bisa ngurangin kemacetan, tapi kenapa coba banyak banget akhirnya orang yang ngeluh kalo semua usahanya itu yang ada malah nambah kemaceten.

Gw siy punya analisa sendiri kalo sebenernya yang bikin macet itu bukan cuma  banyaknya mobil pribadi yang berkeliaran di jalanan, atau  karena  banyaknya  jalan  yang kemudian dijadiin  tempat  lewat seperti  halnya Cinere tempat gw tinggal yang kini juga jadi jalan alternatif buat orang-orang Depok, Sawangan dan sekitarnya ketika mereka mau pergi menuju Jakarta. Mereka cuma lewat aja di Cinere, masa tau2 bisabikin macet yang amat sangat.

Sebetulnya kalo kata gw siy macet itu adalah refleksi diri kita sendiri. Diri kita yang kerap tidak disiplin, entah karena udah kerakter bawaan atau mungkin karena kurangnya law enforcement terhadap pelanggaran-pelanggaran yang ada. Coba deh bayangin, kalo mau naik angkot ato kendaraan umum aja nunggunya di tempat yang ga jelas alias semaunya, ya jelas aja angkot-angkot pada berhenti seenaknya. Mending kalo mereka sempet minggir dikit, tp seringnya ngga kan? Eh…jangan salahin supir angkot dulu dong dan jangan salahin juga orang2 yang ngeberhentiin angkotnya, wong dari sananya udah begitu. Kecuali kalo emang negeri ini udh nyipain halte-halte bus yang pasti tempatnya, sehingga para penumpang emang kudu wajib nunggu di bus stop yang ada.
Belum lagi masalah jalan raya yang berlubang. Please deh pak bu, negeri segede gini sebenernya ada yang ngurusin ga siy? Ga ada apa anggaran utk ngebagusin jalan raya yang  tiap hari, tiap jam, tiap menit bahkan tiap detik kita lewatin. Gw yakin sebenrnya ada kan, tapi… Nah, ini dia repotnya,  terlalu banyak tapi yang sering kali muncul dalam realita yang ada. Akibatnya ya gini ini… Macet lagi, macet lagi.  Yang  gw sedihkan lagi, yang namanya macet ga cuma ada di jalanan loh, macet itu juga banyak muncul di sisi lain hidup kita di negeri tercinta kita ini.

So, menyambut tahun baru, gw ucapin selamat tahun baru buat sobat semua, mari kita turut ambil bagian dalam proses perbaikan yang ada di negeri ini, sekedar doa pun bisa menjadi sesuatu yang indah bukan?

HAPPY NEW YEAR 2007!!!