Sebuah kenyataan bahwa setiap manusia lahir dan menjalani hidup ini bukan untuk siapa2, tapi untuk dirinya. Walau demikian, dalam proses hidup, seorang manusia amat lah tidak mungkin hidup seorang diri tanpa siapa2 di sampingnya, apalagi kalau dia hidup di
kota
besar seperti
Jakarta
. Namun kenapa banyak orang bilang bahwa orang
kota
malah lebih individualis dibandingkan orang2 yang hidup di
kota
kecil. Analisa seperti apa yang dapat menjawab pertanyaan ini. Yang pasti pernah satu kali aku membaca bahwa semakin dewasa usia kita, akan semakin pendek rantai perkawanan atau persahabatan yang kita miliki. Mungkin saja, kita lebih banyak kenal orang, tapi tidak lebih dari sekedar kenal.
Kita tidak lagi punya waktu sebanyak dulu ketika kita belum disibukkan dengan ragam pekerjaan yang setiap hari harus kita hadapi. Ada tujuh hari dalam seminggu di mana kita melakukan rutinitas kita. Lima hari di antaranya, yakni Senin sampai dengan Jumat kita habiskan untuk bekerja. Dari pagi hingga malam, waktu kita habis untuk mencari sesuap nasi atau bahkan demi sekepinmg berlian. Ketika malam tiba, kita pulang ke rumah dengan tubuh lelah dan yang kita bisa lakukan hanyalah beristirahat, karena manusia normal butuh istirahat untuk menjaga stamina dalam menjalani hidupnya. Kegiatan rutin itu berjalan dari Senin hingga Jumat.
Ketika tiba akhir pekan ada sebagian orang ynag memang rela menghabiskan waktunya untuk pergi keluar rumah, entah untuk jalan2 di mall ketemu teman2 atau mengunjungi kerabat yang biasanya sedang punya hajatan. Namun banyak juga, terutama yang sudah berkeluarga, lebih senang untuk tinggal di rumah, menghabiskan waktu untuk beres2 atau sekedar bermain dengan putra/i tercinta. Sabtu dan Minggu akhirnya pun habis. Tidak lagi sempat ketemu teman2 lama, apalagi ketemu kenalan baru yang kemudian pada akhirnya diharapkan bisa menjadi sahabat juga.
Yah, namanya juga hidup, siapa yang tahu sih. Tapi sebenarnya, semuanya terserah kita juga. Toh kita juga yang menjalaninya, bukan? Bisa saja kalau kita tega, tiap malam Minggu, anak2 tercinta kita titipkan pada pengasuh anak/ babysitter, terus kita jalan2 deh, ya…dari sekedar pergi ke kafe ketemu teman2 atau bahkan dugem buat yang emang demen dugem. Hehe…saya cerita ini berdasarkan kenyataan yang saya lihat sendiri loh, jadi saya bukan mengada-ada. Tapi banyak juga kok orang tua yang ngga tegaan. Walopun mereka bisa nitipin anak2nya ke pengasuh atau bahkan orang tua atau mertua, namun mereka tetap memilih bersama anak2 mereka, menemaninya tidur hingga akhirnya ikut ketiduran juga. Orang2 seperti ini lah yang pada akhirnya beresiko kehilangan kesempatan untuk tetap dekat dengan sahabat2nya, walaupun tidak selalu.
Syukurnya, zaman sekarang teknologi sudah makin canggih, jadi siapa pun masih bisa tetap berkomunikasi dengan para sahabatnya entah lewat obrolan di telpon atau sekedar sms dan mms. Hm…semuanya kembali menjadi yang namanya pilihan. Kalo saya sih, berhubung masih jomblo, hehe…masih demen aja ketemu alias ngunjungin sobat2ku, bahkan ikut nemenin mereka jalan2 dengan anak2nya, and you know what?? It’s really2 fun. So, I enjoy my life aja lah. Ya ga ya ga…??? Dan apakah saya seorang yang begitu individualis? Saya rasa tidak. Anggapan bahwa orang
kota
lebih individualis sebetulnya relative, semuanya balik ke diri kita sendiri. Terserah kita maunya apa dan bagaimana. Toh semuanya, efeknya, balik lagi ke kita, bukan?