what a great experience
sambungan dari beberapa judul sebelumnya…
Sudah hampir setahun pengalaman pergi ke Paris terkubur tanpa tulisan dan catatan sebagai lanjutan dari cerita pertamaku.
Seperti aku tuliskan sebelumnya, aku tak pernah menyangka bahwa aku akan bisa pergi ke luar negeri, apalagi Eropa, apalagi dalam masa-masa seperti sekarang. Tapi Tuhan menentukan lain. Tahun lalu persisnya aku pergi, dalam rangka mendampingi Paduan suara mahasiswa STIE Perbanas, Jakarta.
Perjalanan dari Jakarta-Transit di Singapura

-transit lagi di Istanbul-sampe di Barca, lanjut perjalanan darat ke Vic, kota kecil di Catalunya. Orang2 di Spanyol sana tidak semuanya mau mengaku orang Spanyol, tapi sebagian dari mereka mengaku bahwa mereka orang Catalunya. Masalah politik yg tidak perlu dibahas di sini.
Kami ke Vic sekedar untuk menunggu waktu Festival datang. Hehehe…Kami datang terlalu cepat ternyata dan tidak menyangka kalau kami tidak boleh menempati penginapan yang telah disediakan panitia sebelum tiba di hari H. Akhirnya setelah menunggu 2 hari, pergilah kami ke Cantonigros. Pagi2 dengan semangat bersiap2 dan rapi2 di Vic and ga lupa menyempatkan diri untuk foto2, buat kenang2an.
Sesampainya di Cantonigros, aku dan Derry (the project manager) langsung sibuk urus registration dan pernak-pernik lomba, spt partitur dsb. Aku dan teman2 semua dikumpulkan di dalam satu ruangan (tenda besar) sebagai welcoming ceremonynya panitia untuk setiap tim yang datang. Diberi welcomin drink n snack. Hmmm…nice juga.
Berhari-hari di Cantonigros (kota kecil di pegunungan) tetap menjadi satu hal yang menyenangkan untuk kami semua. Bahkan ada satu hal yang amat mengharukan saat itu, tim kami jadi teman favoritnya cucu presiden festival. Tempat kami kumpul di arena festival selalu ditemani mereka dan tidak jarang kami bernyanyi bersama.
The smallest one is the one. Namanya Laia. Anak itu terlihat berbeda dengan sepupu2nya karena ayahnya Laia yang orang Spanyol menikah dengan seorang wanita Columbia. Bisa dibayangkan betapa mengharukannya, di hari terkahir festival, Laia menangis karena hrs berpisah dengan teman-teman barunya dari Jakarta.
Seselesainya kami sibuk di Festival, kegiatan berlanjut dengan konser di kota lain.
Bersambung…