Ayah
October 2nd, 2007 by adelinguistSeseorang yang seumur hidupku kupanggil ayah itu kini telah 8 Agustus 2007 , ba’da Zhuhur di TPU Jakarta .
tiada. Sudah hamper 2 bulan dia
meninggalkan kami semua, aku dan kelurga, juga teman-temannya. Hari itu,
Selasa 7 Agustus 2007, kira-kira pukul 11.27 malam, Allah memanggilnya untuk
selama-lamanya. Aku pastinya sedih, tapi aku sempat bilang padanya, “Seandainya
Ayah cape, insya Allah aDe ikhlas Ayah pergi”. Ya, sebaris kalimat itu
tiba-tiba muncul di dalam hatiku Selasa malam persisnya ba’da Maghrib, terakhir
aku menjenguknya di ruang ICU RS Prikasih. Aku mungkin tidak tega melihat
dirinya berlama-lama kelelahan, namun aku percaya, walaupun ayah sakit,
keputusan Yang Kuasa lah yang membuatnya pergi saat itu. Ayah kemudian dibawa
pulang pagi (dini hari) itu juga, lalu dimakamkan Rabu,
Tanah Kusir,
Buatku ayah adalah satu orang dari sedikit orang penting dan
punya makna dalam hidupku. Mungkin kami sempat tidak dekat di zaman dulu ketika
aku masih ingusan dan takut akan sosok ayah yang memang terkesan galak. Namun
beranjak dewasa dan bertambahnya umur kami berdua, hubungan ayah dan anak di
antara kami menjadi semakin baik. Bahkan
belakangan ayah benar-benar bias menjadi tempat aku bercerita dan berdiskusi
banyak hal tentang kuliah dan pekerjaan. Ayah lah yang membuatku berani
mengambil keputusan untuk mengambil kuliah di Fakultas Sastra Inggris, setelah
sebelumnya gagal masuk IPA (jalanku untuk menggapai cita-cita menjadi dokter
anak). Selain itu ayah juga banyak memberiku masukan tentang bagaimana menjadi
mahasiswa, pengajar sekaligus pendidik yang baik.
Ayah sendiri
berlatar belakang pendidikan ekonomi, tapi dia tidak pernah memaksa
anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya, karena itu tidak heran dari kami berlima
(anak-anaknya) tidak ada satu pun yang melanjutkan kuliah di bidang ekonomi.
Selama hidupnya ayah terkenal sebagai seorang pembelajar yang tekun. Di
sela-sela waktu bekerjanya di bank, ayah masih sempat meluangkan waktunya untuk
mengajar. Bahkan belakangan, menjelang kepergiannya, ayah malah sempat hanya
mengabdikan dirinya sebagai seorang pengajar. Yang aku ingat, dia sempat
mengajar Bahasa Inggris (sama sepertiku, walaupun latar belakang pendidikannya
bukan Bahasa Inggris), Manajemen Pemasaran, BLKL (mahasiswa Ekonomi tau deh
mata kuliah ini), Bisnis Internasional, dsb.
Ayah jarang
sekali memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya. Bahkan sejauh yang aku tahu,
kepercayan ayah kepada kami anak-anaknya terlalu besar sehingga cenderung
menjadi liberal. Kami di rumah tidak punya jam malam. Tidak seperti anak-anak
lain di usia kami saat kami di bangku sekolah, seingatku ayah tidak pernah
melarangku dan saudara-saudaraku untuk pulang malam. Dia memperbolehkan kami
pulang jam berapa saja asal jelas. Untuk sebagian orang, mungkin cara seperti itu
bisa mengkhawatirkan karena bisa berakibat membuat anak menjadi liar.
Alhamdulillaah, aku rasa aku cukup baik dan mampu memegang kepercayaannya.
Ya…harapanku ketika ayah meninggalkan kami, seandainya aku pernah membuatnya
kecewa, rasa kecewanya tidak terlalu dalam. Mungkin aku sempat berharap semoga
kepergiannya tidak membawa rasa kecewa akan diriku, namun aku sadar, itu semua
tidak mungkin. Pastilah aku pernah membuatnya kecewa, walaupun dia tidak
menunjukkan rasa kecewanya itu.
Sampai hari ini
aku masih banyak ingat tentang dirinya. Aku berharap dan berdoa, semoga aku
akan selalu ingat padanya dan mampu mengambil hikmah, pelajaran dan manfaat
dari pertemuan kami yang pernah ada sehingga aku menjadi hambaNya yang labih
sholeh agar aku mampu terus mendoakannya.
Terlalu banyak
yang aku bisa tulis tentang dirinya. Mungkin lain waktu akan kusambung lagi
cerita ini.
Semoga Allah
selalu menjaga kita semua agar kita tetap mendapat terang di setiap langkah dan
mendapat kemudahan kala menghadapi semua yang ada di depan kita, aamiiin.
^_^